Saat Anak Mulai Berkata 'Tidak': Cara Bijak Menghadapi Fase Negasi Balita

Dua minggu lalu, di tengah kesibukan pagi hari, saya hampir menyerah. Raka, anak saya yang baru berusia dua setengah tahun, tiba-tiba menolak semua yang saya tawarkan. “Mau mandi, Nak?” “Tidak.” “Sarapan dulu, yuk?” “Tidak.” “Pakai baju biru?” “Tidak, tidak, tidak!” Wajahnya memerah, tangan mengepal, dan mulutnya terus mengulang satu kata yang sama. Saya hanya bisa menarik napas panjang, mengingat-ingat buku parenting yang pernah saya baca. Di sinilah saya, seorang ibu bekerja di Malang, berhadapan langsung dengan fase yang oleh para ahli disebut sebagai negasi balita.
Fase ini memang melelahkan. Tapi percayalah, Anda tidak sendirian. Hampir setiap orangtua muda pernah mengalaminya. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, sekitar 60% anak usia 2–3 tahun di Indonesia menunjukkan perilaku menentang ringan sebagai bagian dari proses tumbuh kembang. Artinya, ketika si kecil mulai sering berkata “tidak”, itu bukan karena ia nakal atau membangkang. Itu adalah cara otaknya belajar mandiri dan mengeksplorasi batasan. Di artikel ini, saya akan berbagi pengalaman dan beberapa pendekatan yang bisa membantu kita melewati fase ini dengan lebih tenang.
Mengapa Anak Balita Suka Berkata “Tidak”?
Saya ingat betul perasaan campur aduk saat pertama kali Raka dengan tegas menolak permintaan saya. Rasanya seperti kehilangan kendali. Tapi setelah saya pelajari, fase ini justru menandakan perkembangan kognitif dan emosional yang sehat. Anak usia 18 bulan hingga 3 tahun sedang berada di tahap autonomy vs. shame and doubt menurut teori psikososial Erik Erikson. Mereka mulai sadar bahwa dirinya adalah individu terpisah dari orangtua, dan kata “tidak” adalah alat pertama yang mereka miliki untuk menegaskan kemandirian.
Di rumah kami di Malang, saya sering melihat Raka berkata “tidak” bukan karena ia benci sesuatu, tapi karena ia ingin mencoba mengontrol situasi. Misalnya, ketika saya menyuruhnya memakai sepatu, ia menjawab “tidak” padahal lima menit kemudian ia sendiri yang mengambil sepatu itu. Ini membingungkan, tapi normal. Dr. Maria Montessori, dalam pendekatan pendidikannya, menekankan bahwa anak perlu diberi ruang untuk memilih agar rasa percaya dirinya tumbuh. Jadi, ketika si kecil berkata “tidak”, sebenarnya ia sedang berkata, “Aku ingin punya pilihan, Bu.” Cerita dari sudut lain di ibu anak hemat.
Strategi Komunikasi yang Efektif Saat Anak Menolak
Setelah beberapa kali gagal dengan pendekatan otoriter—memaksa, meninggikan suara, bahkan kadang mengancam—saya sadar bahwa cara itu hanya memperburuk suasana. Raka malah semakin keras kepala. Saya pun mencoba pendekatan baru: memberikan pilihan terbatas. Misalnya, alih-alih bertanya “Mau mandi?”, saya berkata “Kamu mau mandi pakai gayung biru atau gayung kuning?” Tiba-tiba, ia bersedia ke kamar mandi.
Teknik ini bekerja karena anak merasa dilibatkan dalam keputusan. Ahli tumbuh kembang anak dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) menyarankan agar orangtua menggunakan kalimat positif dan konkret. Hindari pertanyaan terbuka yang bisa dijawab “tidak”. Misalnya, “Ayo kita sikat gigi setelah ini” lebih efektif daripada “Mau sikat gigi sekarang?”. Saya juga belajar untuk tetap tenang. Saat Raka mulai merengek, saya duduk sejajar dengannya, menatap matanya, dan berbicara dengan suara lembut tapi tegas. Ini bukan soal menang atau kalah, tapi soal membangun koneksi.
Mengelola Emosi Orangtua di Tengah Fase Negasi
Menjadi ibu bekerja di Malang dengan segala tuntutan pekerjaan dan rumah tangga, fase “tidak” dari Raka sering kali menjadi pemicu stres tersendiri. Saya ingat suatu sore, setelah seharian meeting online, Raka menolak makan malam. Saya merasa lelah dan marah. Tapi kemudian saya sadar, emosi saya justru membuat Raka semakin rewel. Saya pun belajar teknik pause and breathe. Sebelum merespons, saya tarik napas dalam tiga hitungan, lalu bertanya pada diri sendiri, “Apa yang sebenarnya Raka butuhkan saat ini?”
Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Child Psychology and Psychiatry (2019), respons orangtua yang tenang dan konsisten dapat mengurangi frekuensi tantrum pada anak usia prasekolah hingga 30%. Saya juga mulai meluangkan waktu 10 menit setiap malam untuk refleksi diri. Menulis jurnal kecil tentang apa yang berhasil dan apa yang tidak. Ini membantu saya tidak mudah terpancing. Ingat, kita bukan robot. Wajar jika kadang emosi. Yang penting, kita cepat sadar dan meminta maaf pada anak jika sudah terlanjur marah. Raka mungkin belum paham kata-kata saya, tapi ia bisa merasakan ketulusan Ringkasannya pernah saya buat di ibu anak remaja.
Alternatif Kegiatan untuk Menyalurkan Energi Anak
Salah satu penyebab Raka sering berkata “tidak” adalah karena ia bosan atau kelebihan energi. Di usia balita, mereka butuh banyak gerak dan stimulasi. Saya mulai menyediakan waktu khusus setiap hari untuk bermain aktif di luar rumah. Di Malang, kami sering pergi ke taman dekat rumah atau sekadar berjalan kaki di kompleks perumahan. Aktivitas fisik terbukti membantu mengatur mood anak. Sebuah studi dari American Academy of Pediatrics menyebutkan bahwa anak yang aktif bergerak setidaknya 30 menit per hari memiliki risiko lebih rendah mengalami masalah perilaku.
Selain itu, saya juga memperkenalkan kegiatan seni sederhana seperti mewarnai dengan krayon atau bermain plastisin. Saat Raka asyik menekan-nekan plastisin, ia jarang berkata “tidak”. Kegiatan ini memberikan saluran ekspresi yang aman. Saya juga belajar untuk tidak memaksakan jadwal terlalu kaku. Fleksibilitas adalah kunci. Jika Raka menolak tidur siang, saya tidak langsung panik. Saya ajak ia membaca buku bergambar sambil berbaring. Perlahan, matanya mulai mengantuk. Intinya, kita perlu membaca isyarat anak dan menyesuaikan pendekatan Komparasi langsung ada di ibu anak pemula.

Penutup
Fase anak berkata “tidak” bukanlah musuh yang harus dikalahkan, melainkan jembatan menuju kemandiriannya. Setiap kali Raka bersikeras dengan pendapatnya, saya ingat bahwa ia sedang belajar menjadi dirinya sendiri. Dan tugas saya sebagai ibu bukanlah untuk menekan suara itu, melainkan membimbingnya agar tetap dalam koridor yang aman. Mungkin hari ini masih terasa berat, tapi percayalah, suatu saat nanti kita akan merindukan masa-masa kecil mereka yang penuh kejutan ini. Jadi, ambil napas, tersenyumlah, dan hadapi setiap “tidak” dengan cinta yang tak pernah habis.
Baca juga: Ibu anak
Selengkapnya di: sumber resmi
